Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 November 2017

Pengais Ketenangan




Aku mendengus gelisah di tengah hiruk pikuk keramaian.
Mencari tempat menyendiri untuk sekedar memanjakan hati.
Dunia ini sudah terlalu bising dengan segala bualannya.
Tidak adakan ruang bagi pengais ketenangan seperti diriku?

-W-

Mengadu. Memohon. Bersimpuh.





Mengadu bukan berarti lemah.
Namun, bentuk kepasrahan diri bahwa kita tak bisa lakukan apapun tanpa kehendakNya.

Memohon bukan berarti tak berdaya.
Namun, bentuk kesadaran bahwa semua yang terjadi atas izin dan ridhoNya.

Bersimpuh bukan berarti rendah.
Namun, bentuk ketaatan serta syukur atas segala nikmat dan karuniaNya.

Mengadulah. Memohonlah. Bersimpulah.
Hanya kepadaNya.

-W-

Sabtu, 30 September 2017

Sisi Yang Terbaikan

Diam bukan berarti tidak peduli.
Hilang bukan berarti pergi.
Selesai bukan berarti sebuah akhir.
Pindah bukan berarti tak kan kembali.

Semua yang nampak,
Pasti miliki sisi yang terabaikan.

Layaknya diam yang tetap mendoakan tiap selesai solat agar kamu selalu selamat dan baik-baik saja.
Layaknya hilang untuk memantaskan agar lebih siap dan matang.
Layaknya selesai untuk buat mu mulai hal baru yang membahagiakan.
Layaknya pindah untuk merasa bagaimana rindu menikam hati yang lara.

-W-

Selasa, 26 September 2017

Terima Kasih, Hujan


Ah, kamu memang yang paling mengerti.
Kala ku ingin sendirian.
Kau hadir untuk usir semua kebisingan di sekitar.

Aku juga selalu rindu akan suaramu, syahdu. 

Tiap ku pejamkan mata tuk dengarkan suaramu, 
aku selalu tenggelam dalam ketenangan yang menghanyutkan.

Aroma mu juga selalu jadi favoritku.
Tiap kamu bersatu dengan bumi dan menimbulkan aroma khas,

selalu buat ku teringat akan seluruh momen bahagia yang pernah terjadi saat kamu hadir.

Dan yang terpenting,

kehadiranmu selalu berhasil menyamarkan sedih ku.

Terima kasih untuk kehadiran kamu malam ini, Hujan.

-W-

Sang Fajar



Fajar menyingsing.

Di ufuk timur, mentari mulai menampakkan diri.

Ia muncul bak ksatria penebas kegelapan dini hari.

Awan menguning menyambut sang mentari di langit.

Rasa suka cita ikut menyambut kala ia hadir.

Karena mentari bawa harap untuk bangkit.

Tapi mengapa di belahan semesta sana masih ada manusia yang bersedih?

-W-

Senin, 24 Juli 2017

Lembaran Lama

 
Penulis itu sedang membuka lagi lembaran-
lembaran lama yang telah Ia tulis.

Di sana, ada sebuah kisah tentang dua anak 
manusia sedang menata harap dan citanya bersama.

Belum selesai.

Terbengkalai.
 
Berhenti begitu saja tanpa tanda titik maupun koma.

Akhirnya, Ia memutuskan 'tuk menyimpan 
lembaran kisah itu di tempat lain.

Sembari menunggu ilham dari yang Maha Pembuat Kisah.

Mau dibuat apa akhiran dari kisah dua anak manusia tadi.

-W-

Senin, 12 Juni 2017

Kompilasi Senja Untuk Kamu


Senja #1, tentang sosok.
Kamu seperti Senja, jingga, merah keemasan, kuning terang, gelap berabu, miliki banyak ekspresi namun tetap indah dengan segala kelebihan dan kekurangan mu. Terima kasih atas kesediaan mu mengijinkan ku mengenal kamu lebih dalam dan sejujurnya itu buat aku candu. Selalu ada hal-hal tak terduga dari kamu yang selalu buat aku kagum. Dan kamu adalah salah satu sosok setia yang senantiasa menemani aku dari masa-masa sulit yang ku lalui hingga saat ini.

Senja #2, tentang komunikasi.
Sejujurnya, dari sekian banyak manusia yang aku temui di muka bumi ini. Hanya kamu satu-satunya manusia selain keluarga aku yang dapat mengerti dan memahami aku begitu hebatnya. Dengan segala kesabaran dan ketenangan mu, kamu selalu tau bagaimana menyikapi aku di setiap situasi. 
Ribut? Hal yang biasa. Bumbu penyedap yang harus ada agar masakan tetap terjaga kualitasnya. Tapi esoknya kita kembali bersua layaknya tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
 
Senja #3, tentang hati.
Ini bagian yang sulit untuk diaksarakan.
Biarlah aku saja yang merasakan bagaimana gejolak hati ini setiap menatap paras mu.

Senja #4, tentang persiapan.
Aku sibuk. Sibuk mempersiapkan andai aku dan kamu dapat bersatu. Namun, aku tidak mepersiapkan untuk kemungkinan buruk yang terjadi. Karena aku tidak siap untuk itu.
Sampai saat ini pun, aku masih belum siap.

Senja #5, tentang harap.
Harap ku kepada mu tak pernah absen dalam setiap doa yang aku haturkan tiap waktu. Kamu selalu menjadi sosok favorit dalam setiap doa setelah kedua orang tua ku. 

Senja #6, tentang perpisahan.
Perpisahan yang paling menyedihkan adalah perpisahan yang terjadi bukan karena kehendak aku maupun kamu. Tapi, ini semua sudah terjadi. Perpisahan pasti terjadi, yang membedakan hanya menyoal waktu. Ternyata kita dipertemukan untuk pembelajaran, bukan untuk dipersatukan.
Aku tidak pernah menyesal karena dulu dipertemukan dengan kamu, malah aku begitu bersyukur kita dipertemukan.
Biarlah memori tentang mu akan menjadi salah satu memori favorit yang tidak akan pernah aku lupakan.
Jangan lupakan, perpisahan ini sangat mengajarkan aku maupun kamu tetang kebesaran hati, kesabaran bahkan keikhlasan yang luar biasa.

-------------------------------------------------------------

Aku persembahkan Kompilasi Senja ini untuk Kamu.

Agar, meskipun semua sudah berlalu, biarkan kompilasi ini  menjadi pengingat akan seluruh kisah Aku dan Kamu yang pernah terjadi.

Karena, masa lalu yang terjadi bukan untuk disesali, namun untuk dipelajari.

-------------------------------------------------------------


Tanjung Enim, dini hari 19 Ramadhan 1438 H
-W-