Minggu, 20 Mei 2018

Chapter 14 - Teduh



#JurnalTutupTahun2017
Chapter 14 - Teduh:

Agustus 2014 merupakan waktu pertama saya mendengarkan lagu Payung Teduh. Kala itu saya bersama tiga teman saya sedang melakukan pendakian ke Gunung Gede, kami memilih pos kandang badak sebagai tempat kami membangun tenda, karena pos tersebut merupakan tempat favorit untuk mendirikan tenda apabila ingin menuju puncak pangrango via jalur cibodas. 

Pada malam harinya, pos kandang badak menghadirkan ketentraman dengan pemandangan pepohonan yang rimbun serta langit berhiaskan bintang dan bulan. Tiba-tiba dari tenda sebelah, yaitu tenda teman sependakian saya, mengalun sebuah lagu yang meneduhkan, membuat malam di atas gunung semakin syahdu. Awalnya saya tidak tau lagu apa yang dimainkan oleh teman saya tersebut, tapi dari mendengarkannya saja sudah membuat saya tentram.

Keesokannya, saya tau dari teman saya bahwa lagu tersebut merupakan lagu dari Payung Teduh yang berjudul Cerita Tentang Gunung dan Laut. Dan mulai saat itu, saya mulai mencari tau semua lagu-lagu yang dinyanyikan Payung Teduh, dan menurut saya semuanya syahdu. Enak di dengar, menentramkan, dan seperti namanya, meneduhkan hati. Namun, sejak pertama saya mendengar lagunya saya tidak pernah menonton langsung Payung Teduh bernyanyi secara langsung.

Dan pada tahun ini menjadi saat pertama kalinya saya menonton Payung Teduh secara langsung, yaitu di acara Prambanan Jazz Festival. Cukup membutuhkan perjuangan untuk menonton band tersebut secara langsung, berdiri dan bersedakan di tengah-tengah kerumunan orang. Meskipun, suasananya kurang khidmat untuk mendengarkan lagu-lagu Payung Teduh yang syahdu, namun cukup terbayarkan lunas perjuangan berdesak-desakan dengan bisa menikmati lagu-lagu Payung Teduh secara langsung.

Namun, sepertinya, event kemarin akan menjadi pertama kalinya saya menonton mas @pusakata bernyanyi secara langsung, dan juga akan menjadi terakhir kalinya saya melihat Payung Teduh perform langsung. Karena, Mas Is, vokalis dari Payung Teduh, memutuskan akan hengkang dari Band yang telah dia besarkan sejak 2007 tersebut pada Desember 2017 ini.

Sekian.

Salam,
-W-

Chapter 13 - Pekanbaru



#JurnalTutupTahun2017
Chapter 13 - Pekanbaru

Tahun ini untuk pertama kalinya saya mengunjungi Pekanbaru. Saya ke sana untuk menghadiri undangan pernikahan teman kerja saya, eit jangan nanya kapan saya ngundang juga ya, gih mampir ke updatean "Mendoakan" dulu kalau masih mau bertanya seperti itu.

Saya di Pekanbaru selama dua hari satu malam, sejujurnya sedikit sekali tempat wisata yang bisa dikunjungi di sana. Karena pekanbaru memang lah sebuah kota di tengah provinsi Riau, literally kota banget. Jadi, jauh dari pantai ataupun pemandangan gunung khas dataran tinggi. Salah satu teman saya asal sana bahkan bilang, Pekanbaru seperti Serpong, kalau ke Serpong ya mau kemana sih kalau bukan ke mall palingan. Ada benarnya juga sih. 
Sebenarnya rombongan saya saat itu sempat ingin mengunjungi tempat peninggalan Istana Siak, yang terdapat salah satu istana megah sisa dari peninggalan Kesultanan Siak yang merupakan kerajaan penganut agama Islam terbesar di Riau pada abad ke 16-20 yang lalu. Namun, karena letaknya yang cukup jauh dari Pekanbaru, akhirnya rombongan kami memutuskan tidak jadi kesana mengingat waktu dan jadwal yang padat.

Nah, untuk urusan kuliner, sepenglihatan saya sepanjang jalan di sana, rata-rata rumah makannya menyantumkan kata "Khas Melayu" sebagai embel-embel di belakang namanya. Jadi, kesimpulan simpel saya adalah kuliner khas Pekanbaru adalah kuliner khas Melayu. Ketika di sana, saya sempat makan di salah satu rumah makan khas melayu yaitu Pondok Patin HM Yunus. Memang dari segi makanan melayu banget lah, dan makanan yang jadi primadona di rumah makan tersebut adalah Gulai Ikan Patin, asam, pedas, dan menyegarkan.

Dan untuk urusan oleh-oleh, Pekanbaru menawarkan Bolu Kemojo dan Kacang Pukul sebagai oleh-oleh kuliner khas dari daerah tersebut. Bolu Kemojo adalah kue yang dilengkapi dengan santan murni lalu dimasak dengan cara dikukus. Berbeda dengan tekstur kue bolu pada umumnya, Bolu Kemojo ini memiliki tekstur yang kenyal dan cukup padat. Sedangkan, Kacang Pukul ini memiliki tekstur dan rasa yang hampir sama dengan kacang ting-ting. Hanya saja cemilan khas Pekanbaru ini lebih padat dan memiliki rasa manis yang sangat khas.

Sekian.

Salam,
-W-

Chapter 12 - Naung



#JurnalTutupTahun2017Chapter 12 - Naung:

Sejak di Tanjung Enim, saya sudah 2 kali pindah tempat tinggal. Awalnya saya kost di Muara Enim selama 4 bulan, namun karena perjalanan dari tempat kostan hingga tempat kerja cukup memakan waktu yang lama dan sepi sehingga apabila pulang malam cukup beresiko, akhirnya saya memutuskan pindah tempat kost.

Selanjutnya, saya sewa sebuah rumah kontrakan bersama salah satu teman saya di Keban Agung, daerah tersebut masih di Tanjung Enim. Namun hanya bertahan selama 3 bulan, karena rumah tersebut masih cukup jauh ke kantor dan juga jauh dari tempat orang menjual makanan, akhirnya saya memutuskan untuk pindah lagi.

Tempat selanjutnya yang dijadikan tempat bernaung adalah sebuah rumah tinggal lengkap bersama pemiliknya yang menyewakan kamar di rumahnya menjadi kost-kostan. Saya mulai menempati kamar kostan di sana mulai bulan Februari 2017. Awalnya, saya berniat tinggal di sana sementara, karena apabila tinggal di tempat yang pemiliknya juga berada di situ, saya merasa canggung dan tidak bebas.

Namun, selang beberapa hari setelah tinggal di sana, saya justru memutuskan akan tetap stay di rumah tersebut sampai saya harus mengontrak / membeli rumah untuk ditinggali bersama pasangan saya kelak, walaupun belum ada calonnya, rencana tetap harus dibuat.

Kenapa hanya dalam hitungan hari saya sudah bisa merasa nyaman di rumah tersebut? Karena, di rumah ini saya merasakan memiliki keluarga baru. Sepasang suami istri yang menyewakan kamar di rumahnya yang biasa kami panggil Ayah & Ibu bagi penghuni kost-kostan tersebut, menjelma menjadi pengganti orang tua di tanah perantauan. Dan ada bonus, saya merasa memiliki adik baru yang bernama Anggin & Abay, karena kebiasaan yang dididik oleh orang tua mereka untuk memanggil penghuni kostan di rumahnya dengan sebutan "Abang", dan karena panggilan tersebut juga panggilan saya di rumah, sehingga saya merasa seperti memiliki adik baru.

Well, saya bersyukur, even di tanah perantauan yang jauh dari rumah, namun saya menemukan "rumah" baru yang meskipun tidak bisa menggantikan rasa rumah sesungguhnya tetapi tetap bisa memberikan rasa nyaman dan tentram untuk saya bernaung.

Sekian.

Salam,
-W-

Chapter 11 - Mendoakan



#JurnalTutupTahun2017
Chapter 11 - Mendoakan:


Tahun ini menjadi tahun mulai ramainya intensitas menerima undangan pernikahan dari kerabat maupun saudara. Sejujurnya, ini menjadi momen mengasyikan karena ketika ada undangan dari temen SD, akan menjadi ajang reuni bersama dengan teman SD sembari bercerita tentang betapa lugunya dulu ketika masih kecil, apabila undangan dari teman kuliah, akan menjadi ajang reuni bersama dengan teman kuliah sembari bercerita tentang betapa idealisnya dulu ketika masih menjadi mahasiswa. Yap, selalu menyenangkan mengenang berbagai hal di masa lalu bersama kawan-kawan lama.

Namun, sayangnya, ajang ini kadang dinodai dengan statement yang kerap diumbar oleh beberapa oknum, yaitu: "Kondangan mulu, kapan ngundangnya?" Mungkin niat beberapa orang mengajukan pertanyaan itu beragam, mulai dari bercanda, serius nanya kapan, iseng, kebiasaan, basa-basi, namun yang parahnya apabila mengajukan pertanyaan itu dengan niatan menghakimi atau terkesan menyudutkan.

Kalau pendapat saya pribadi, lebih baik mendoakan dibanding menanyakan, meskipun hanya iseng. Akan lebih indah menurut saya kalau statementnya dirubah menjadi, "Kondangan mulu, semoga cepat mengundang juga ya." See that? Doa adalah salah satu bentuk bantuan paling nyata dibandingkan mengajukan statement mainstream yang kesannya sudah jadi mandatory diajukan apabila ada orang menghadiri kondangan.

Namun, pada akhirnya kembali lagi ke pendapat masing-masing. Postingan ini dibuat bukan untuk menyindir / karena baper. Tapi hanya ingin menyampaikan pendapat pribadi. Dan mari kita tutup postingan ini dengan mengutip kalimat bang @kurniawan_gunadi :

Pernikahan, secara teori nampak mudah dan sederhana. Tetapi semuanya menjadi sama sekali tidak sederhana jika ia sudah dihadapkan pada seorang manusia. Seseorang yang lengkap dan memiliki banyak pertimbangan terkait masa lalu, orang tua, keluarga besar, nilai-nilai, pandangan hidup, visi dan misi, juga hal-hal lain yang mungkin tidak pernah ada dalam hidupmu. Kamu tidak pernah mengalami dan merasakannya. Sebab itulah, mendoakan jauh lebih baik daripada menilai. Memahami jauh lebih baik daripada berburuk sangka.

Sekian.

Salam,
-W-

Chapter 10 - Duka


Chapter 10 – Duka:


Salah satu buku yang selesai saya baca dan menurut saya paling berkesan pada tahun ini adalah buku Kala Rasul Berduka karya Abdul Wahid Hasan.

Buku ini terdiri menjadi tiga bagian. Bagian pertama menceritakan tentang fase berduka Rasulullah ketika harus kehilangan orang-orang terdekatnya termasuk keluarga mulai dari ayahnya, ibunya, pamannya, hingga kakeknya. Bagian kedua menjabarkan tentang fase berduka yang harus Rasulullah lalui atas dakwah Islam yang beliau sampaikan. Dan, bagian ketiga yaitu bagian terakhir dari buku ini mengisahkan tentang fase berduka yang beliau alami dalam kehidupan berkeluarganya.

Tiap membaca kisah demi kisah dari tiga bagian yang diceritakan dalam buku tersebut, kerap kali membuat saya merenung, masalah yang saya alami dan membuat saya berpikir bahwa saya sedang mengalami fase berduka karena sedang dirundung masalah tersebut, ternyata hanyalah sebagian kecil, sangat amat kecil bahkan, dari masalah-masalah yang Rasulullah alami dan lalui. Bagaimana Rasulullah tumbuh dengan memiliki kepribadian dan karakter yang begitu luar biasa dan mulia, padahal sejak kecil beliau sudah mengalami banyak kehilangan dari mulai Ayah dan Ibunya, kemudian Kakeknya. Bagaimana Rasulullah harus menghadapi musuh-musuh Islam yang membenci dakwahnya dengan berbagai hinaan dan cibiran, padahal cara dakwah yang beliau lakukan sudah sangat santun dan mulia. Bagaimana Rasulullah mendapatkan berbagai fitnah terhadap keluarganya, padahal Rasulullah sebaik-baiknya manusia yang pernah hidup di dunia.

Kesimpulan yang dapat saya ambil setelah membaca buku tersebut adalah apabila kita merasa berduka atau sedang dirundung masalah, jangan pernah patah semangat karena Allah selalu bersama hamba-hambaNya yang senantiasa mendekatkan diri juga kepadaNya, itulah sikap yang selalu Rasulullah contohkan kepada kita di setiap masalah dan fase berduka yang dilaluinya.


Sekian.

Salam,

-W-